Donderdag 16 Mei 2013

Produk MTA Sesat

ADU  KEYAKINAN
Cekcok di saat tahlil berlangsung

                Seperti kebiasaan di suatu Desa Sugihan bila ada salah satu keluarga yang  meninggal dunia lalu diadakan tahlilan guna mendoakan almarhum agar arwahnya menjadi tenang, dapat diampuni dosanya dan dapat diterima amal ibadahnya  ketika masih hidup. Dan juga bagi keluarga yang ditinggalkannya mendapat ketenangan kesabaran dan ketabahan.
               Sekitar pukul 19.30 setelah sholat Isyak  semua Jama’ah tahlil telah berkumpul dan dimulailah tahlilan dengan dipimpin oleh  pak Iksan imam yang biasanya menjadi iman di mushola. Setelah semua berkumpul tahlilan dimulai. Namun baru beberapa menit kemudian terdengan suara orang berteriak keras “Stop ! ….. Stop ! … Ini Bid’ah”... ini bid’ah.  Spontan semua jamaah terkejut dan terdiam lalu menoleh ke orang yang telah berteriak dengan perasaan heran dan  geram. Pimpinan tahlil pun marah atas tindakan salah satu jamaahnya yang berteriak membentak-bentak di saat sedang khitmat dan khusuk.
            “Hei ….pak maksutya  apa ini ?  ini  tahlil sedang berlangsung mengapa berteriak-teriak seperti itu. Kalo tidak mau tahlil mengapa harus hadir ke sini ? Sebaiknya bapak pulang saja dan jangan ganggu kami, ini di rumah orang yang sedang kesusahan butuh ketenangan jangan membuat kacau  seperti ini.
            “Saya hanya menyampaikan … !  kalau tahlil itu bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh nabi, jadi tidak perlu dilakukan, sebaiknya berhenti saja”.
            “Orang aneh, Ini sudah biasa dilakukan sejak jaman dulu, para kyai memberi tuntunan seperti ini.”
               “Tapi itu tidak ada tuntunannya dalam Islam pak”
                “Lha ini buku apa kok bilang tidak ada tuntunannya, memangnya  saya ngarang sendiri ada dasarnya ini berdasarkan hadist  dan ada petunjukknya bukan asal bunyi.
               “Tapi hadist itu dhoif pak diragukan kebenarannya”
                “Siapa bilang dhoif, ini hadist shahih disampaikan oleh nabi dan diikuti anak cucu-cucunya secara turun temurun tanpa putus  jadi hadist ini  tidak mungkin diragukan karena  penyampainya adalah keturunan nabi tidak mungkin keturunan nabi memalsukan hadist. Kalau tidak ada dalam buku atau tulisan itu memang dulu hadist-hadist itu tidak ditulis tapi hanya disampaikan lisan oleh nabi. Lha kalau sumbernya didapat dari keturunan nabi maka tidak perlu diragukan lagi. Sudahlah kalau bapak merasa tidak sepaham dengan kami silahkan  keluar saja jangan membuat bingung orang, biar kami melanjutkan tahlilan ini kasihan  tuan rumah karena ini atas permintaannya dan dzikir  itu bagi kami dapat menentramkan hati".
            Orang itu tetap diam di tempat dan tidak segera pergi  dan cekcok pun terus berlangsung, masing-masing mengeluarkan dalil yang dimiliki dan suasana semakin tambah panas. Keadaan pun jadi kacau. Untuk mengatasi masalah ini salah satu jamaah keluar  dan pergi ke rumah pak Mansyur kyai yang lebih tahu tentang masalah ini, dengan harapan   dapat mengatasi masalah ini dan segera terselesaikan.
            Beberapa saat kemudian pak kyai Mansyur datang, saat itu perdebatan masih berlangsung dan mereka tak ada yang merasa kalah. Kemudian direlai oleh pak kyai dan diputuskan tahlil dilanjutkan dan orang itu akhirnya mau meninggalkan rumah duka atas permintaan tuan rumah.
            Ini adalah  sekelumit  gambaran situasi yang membuat masyarakat menjadi resah atas tingkah laku seseorang yang konon belajar  dari sebuah radio. Orang yang dulu dikenal tidak peduli terhadap kegiatan agama,  kesehariannya hanya judi mabuk dan tindakan maksiat lainnya kini  tiba-tiba berubah sok pintar atas apa yang dipelajarinya melalui radio. Merasa lebih pintar  lalu membentak-bentak  sana-sini, ejek- sana ejek sini karena merasa bahwa dirinya  sudah ahli soal agama. Dan apa yang dilakukan semua orang-orang selama ini adalah salah. Tak ada dalil yang ditemukan atas apa yang dilakukan. Dia selalu meneriaki memarahi orang-orang yang suka bertahlil, bersholawat, bertakbir  karena itu bid’ah. Orang itu di  dalam hatinya menjadi resah dan tidak nyaman seperti kepanasan dan kesakitan jika mendengar orang memuji kebesaran Allah atau bersholawat, dzikir-dzikir, seperti takbir dan lain sebagainya.
Inilah yang tampak aneh terhadap orang itu, konon yang dipelajari adalah ayat-ayat Allah, kitab suci  Allah  Al Qur’an, hadist-hadist,   tetapi mengapa hatinya menjadi resah dan gelisah, hatinya menjadi kepanasan dan kesakitan seperti  syetan yang dibacakan ayat-ayat  Al Qur’an ,  tidak suka jika ada orang memuji kebesaran Allah dan selalu melarang orang-orang yang bertakbir bedzikir dan lain-lain.
            Inilah kenyataan di lapangan, demikian kisruhnya dengan hadirnya mereka. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa cekcok di tengah-tengah tahlil di Desa Sugihan, tetapi peristiwa seperti ini banyak terjadi di mana-mana asal ada orang yang produk dari lembaga pengajian  yang sama itu selalu berbuat semacam itu yakni mengacaukan acara yang semestinya berlangsung dengan khidmat dan khusuk sehingga tiba-tiba menjadi kacau. Bahkan ada yang lebih seru. Ada yang bertaruhan mati dan lain sebagainya.
                Ini berarti suatu hal yang patut  dipertanyakan tentang kualitas  iman yang didapat dan dimiliki dan diproduksi dari lembaga pengajian itu.
            Seperti Inikah produk dari lembaga pengajian yang konon memiliki sarana dan prasarana yang lengkap materialnya itu. Memang diakui semua peralatan yang dimiliki tidak asal-asalan. Ini karena didukung orang-orang yang berpengalaman baik di bidang teknologi, penyiaran, pengajaran, pemerintahan, marketing dan semua  tenaga ahli-ahli ada di sini. Orang-orang yang berpengalaman ada di sini, karena mereka banyak yang berasal dari pensiunan pejabat  ini pejabat itu tentu saja  teknik-teknik pengembangan sudah dikuasai. Metode-motode apa saja yang pernah dipraktekkan ketika masih bekerja  diterapkan di sini termasuk teknik penyampaian dengan menggunakan metode tanya jawab yang menjadi daya tarik masyarakat, menjadi andalan utamanya dalam program-programnya,  dan menjadi  kegemaran  masyarakat disiarkan setiap hari dengan diulang-ulang sehingga  masyarakat menjadi hapal apa yang disampaikannya, termasuk masalah-masalah yang menyangkut bid’ah selalu dihadirkan setiap hari dengan terprogram, seolah banyak yang menanyakan hal itu  sehingga masyarakat yang kesehariannya mengamalkan itu menjadi tersinggung dan marah, karena  dianggap sesat sejauh-jauhnya menurut pandangan mereka. Begitu berulang kali hampir setiap hari  mengatakan sesat sejauh-jauhnya dengan sikap sombong dan ketakaburannya dengan gaya bicaranya bak pokrol yang membikin jengkel dan panas, bukan  gaya kyai  yang  menyejukkan hati  dan menyenangkan tetapi membuat setiap yang mendengar  menjadi muak geram dan marah. Namun demikian kata-kata yang menyakitkan itu dia tidak merasa menjelek-jelkkan tidak merasa mengejek, tidak merasa mendholimi orang-orang sholih.
              Memang diakui sarana yang benar-benar lengkap, gedung ber-AC bak di hotel berbintang bergelimang harta dan kemewahan  dunia sehingga memudahkan segala urusan yang  menjadi  tujuan.  Maklum saja   karena sekumpulan pejabat maupun bekas pejabat, orang-orang kaya  pensiunan-pensiunan  ada di sini.  Mereka  dengan senang hati  bergabung di sini karena cocok dengan program  maupun acara yang  disusun  dalam penyiaran itu.  Mereka yang mau memberi donor yang besar  langsung diberi kedudukan jabatan.  Meskipun harus mendepak orang lain yang sudah mendudukinya. 
Namun sayangnya produk-produknya tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan agama. Karena produk-produknya menjadi orang yang memiliki sifat-sifat sombong dan suka takabur, sok pintar, pemarah , suka merendahkan orang lain, tidak menghargai karya-karya orang yang telah dilakukan dengan susah payah,  termasuk para pendahulu yang telah berjuang menyiarkan  agama Islam  dengan peralatan yang minim. Namun meskipun dengan peralatan yang minim hasil yang dicapainya luar biasa. Islam tetap berkembang meskipun dalam ancaman penjajahan.
 Berbeda lembaga pengajian Ini,  produk yang dihasilkan adalah memang menciptakan orang-orang yang pintar untuk tujuan  mengacak-acak orang yang telah tentram tenang dan khusuk  dalam keyakinannya. Ingin memreteli  keyakinan dan amal-amal sholih yang sudah melekat di hati  masyarakat. Ingin merenggangkan hubungannya antara  orang-orang sholih dengan Allah  yang telah mengasihinya.  Intinya hasil dari produk MTA ialah  terciptanya orang-orang sombong sehingga jika dianut akan menyesatkan umat.
Itulah sebabnya masyarakat banyak yang menolak jika di satu tempat yang akan diadakan pertemuan pengajian bagi mereka,  dan MTA pun bertanya heran. Mengapa mau mengadakan pengajian kok dilarang ?  Ingin mengaji Al Qur’an  menyampaikan kebenaran kok ditolak ? tetapi kalau untuk  musik dan aneka macam kemaksiatan dibolehkan ?
 LHA  Kok menunjuknya yang maksiat. Maksiat  dibolehkan ngaji tidak boleh ?  
Siapa bilang  ngaji di larang, ngaji itu dianjurkan, di mana pun kapan pun, lebih sering akan lebih baik, saat ini banyak pengajian bertebaran di mana-mana tidak ada yang dilarang. Tetapi untuk pengajian yang hasilnya membuat masyarakat hatinya menjadi tenang dan tenteram, akhlaqnya menjadi meningkat lebih baik, tawadhu  dan dapat meningkatkan pelaksanaan ibadah di masyarakat.  
Bukan pengajian yang hasilnya menciptakan insan-insan yang sombong sok pintar suka merandahkan orang lain, mendholimi orang-orang sholih, selalu menjelekkan orang-orang yang terdahulu yang telah berjuang mati-matian mengembangkan Islam.
 Perlu diketahui  sekali lagi meskipun orang-orang terdahulu penyampaiannya seperti tanpa bekas tulis-menulis  namun hasilnya luar biasa. Orang dahulu telah dengan susah payah menyebarkan  Islam walau dalam keadaan apapun, dalam keadaan genting terancam, maupun dalam keadaan miskin tanpa ada apa-apa, dengan peralatan seadanya tanpa alat tulis karena di samping alat tulis memang masih langka dan tulis menulis belum membudaya, karena waktu itu adalah masa lalu yang serba sulit dan pahit. Tidak seperti sekarang toko buku bertebaran di sana sini mau beli buku segudang pun akan didapat. Dulu beli sebuah Al Qur’an saja harus menjual kerbau, karena harga satu Al Qur’an  harganya  setara  dengan seekor kerbau. Untuk membeli Al Qur’an harus menempuh perjalanan panjang jauh tidak cukup satu hari lalu dapat, tapi bisa dua hari bahkan lebih karena transportasinya tidak secepat sekarang. Dulu adanya andong , cikar, dokar mana bisa cepat. Cobalah bayangkan  tengok ke belakang bagaimana sulitnya masa- masa itu, masa yang gelap,  belum ada listrik seperti sekarang  walau malam tak ada rasa takut karena di mana-mana terang.
Apa lagi di jaman penjajahan, di jaman sudah merdeka saja anak sekolah masih menggunakan sabak  sebagai pengganti kertas  dan gerip sebagai pengganti pensil atau ballpoint karena masih langkanya kertas dan ballpoint. Apa yang disampaikan guru ditulis di sabak dengan menggunakan gerip lalu dihapalkan, jika sudah hapal dihapus, besoknya diganti pelajaran lain lagi. Otomatis anak sekolah jarang punya buku dan catatan.
Demikian susahnya waktu itu, tapi mengapa mereka mengadakan pengajian kok isinya hanya untuk mencelaaaa...  keberadaan orang-orang dahulu.  Ini  menyakitkan, tetapi anehnya mengapa  mereka tidak merasa berbuat menyakitkan.  Apakah perasaannya memang sudah mati, atau memang tidak punya perasaan tidak punya hati nurani.  Atau memang sudah dilatih untuk  menjadi orang biadab.  Kalau oang Jawa mengatakan kelak  bisa kualat. Tapi sayangnya mereka  sudah tidak kenal lagi kata-kata itu sehingga perbuatannya yang kelewat menyakitkan itu terus berlangsung.
Islam  bersumber dari Al Qur’an dan Hadist. Dari satu sumber yang sama, namun pemahamannya berbeda-beda, hal ini pernah disampaikan oleh beliau nabi Muhammad SAW bahwa kelak agama Islam akan terpecah-pecah menjadi 70 bagian. Perbedaan pendapat di dalam agama Islam akan menjadi rahmat bagi umat Islam itu sendiri. Namun bukan perbedaan yang membuat pertengkaran atau perselisihan. Menganggap dirinya paling benar itulah yang menjadikan pertengkaran, karena menganggap hanya dirinya yang bakal masuk surga dan selain dia masuk neraka. Inilah yang membuat orang lain menjadi tersinggung dan marah, dan itu tidak mereka sadari. 
            Yang lebih menyakitkan ialah hadist-hadist yang dianut selama ini dinyatakan dhoif. Kok mudah sekali menetapkan seperti itu. "Dhoif-dhoif kan hadist, dhoif-dhoif kan hadist" demikian kalimat yang terucap seraya mengejek orang-orang terdahulu, wah suatu pelecehan dan penghinaan terhadap kayi-kyai dan orang-orang terdahulu termasuk wali-wali yang selama ini dianut.
            Terus terang saya tidak percaya hasil penelitian ribuan tahun terhadap hadist-hadist  yang hanya menggunakan krowi-krowi   sebagai pedomannnya, hanya krowi-krowi sebagai tolok ukur.. Hasilnya tidak mungkin valid, dan tidak bisa dipercaya. Ini namanya sembrono. Taruhannya masuk neraka lebih dulu. Itu hanya ingin memangkasi amal-amal yang sudah dijalani selama ribuan tahun yang sudah membawa manfaat  ketentraman keselamatan kesejahteraan  di dunia dan akhirat. Yang berarti ingin merenggangkan hubungan orang-orang sholih dengan Allah.
Ajaran agama yang ditinggalkan para wali itu sudah teruji dengan berbagai kisah nyata tentang kekuasaan Allah, SWT.  Segala sesuatunya meminta petunjuk langsung dari Allah SWT. sehingga tidak akan menjumpai kesesatan.  Tidak sekedar membaca menganalisa dengan otak semata yang hanya menganalisa material. Agama Islam itu bukan hanya memikirkan material tetapi lebih mengedepankan pendekatan diri kepada Allah SWT  melalui laku prihatin puasa rutin demi kejernihan pikiran sehingga mudah mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.  Tidak sekedar analisa akal pikiran yang kotor kumuh berlumurkan dosa yang akibatnya hanya menimbulkan kekisruhan bukan ketentraman, ketenangan dalam beribadah dan menjalankan kehidupannya. ( Lihatlah tiap hari hanya pertanyaan pengaduan ini itu tak ada ketenangan dalam beribadah adanya susah yang pada akhir hayatnya nanti mati tidak khuslul khotimah tapi su'ul khotimah, kematian yang susah ) 
           
Baca juga :
Jutaan orang bisa buta 





Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking